hubungan toxic

Saat menjalani hubungan, siapapun tentu sangat menginginkan kenyamanan, keamanan, dan keharmonisan dalam membangun hubungan yang tidak sementara ini. Tumbuh dan hidup dalam hubungan yang sehat, penuh cinta, dan kasih sayang adalah hal yang sangat didambakan. Namun, bagaimana ketika kamu terlanjur masuk ke dalam hubungan toxic? Jika kamu belum tahu apa itu hubungan toxic, simak penjelasannya di artikel ini.

Apa Itu Hubungan Toxic?

Banyak yang bilang bahwa berada dalam hubungan yang toxic itu sangat melelahkan, tidak hanya lelah secara batin bahkan juga memengaruhi fisik. Lantas, apa sih maksudnya hubungan toxic?

Hubungan toxic adalah hubungan yang di dalammya hanya ada energi negatif yang akan memberikan dampak buruk pada salah satu atau kedua pasangan tersebut. Toksik berarti racun, menandakan hubungan yang sudah sangat berbahaya dan tidak sehat lagi.

Hubungan toxic tidak hanya bisa ditemui dalam percintaan, tetapi juga persahabatan, keluarga, atau bahkan lingkungan kerja. Apapun hubungan yang dijalani, jika itu sudah beracun atau toksik, artinya harus segera ditinggalkan atau diperbaiki sebelum memberikan lebih banyak trauma dan luka bagi korban.

Penyebab hubungan toksik dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti:

  • Pernah terluka di masa lalu, tanpa disadari membawa pola hubungan yang tidak sehat ke dalam hubungan barunya.
  • Rasa insecure berlebihan, pasangan yang tidak punya rasa percaya diri juga cenderung menunjukkan sikap posesif pada pasangan hingga mengekangnya agar pasangan tidak pergi meninggalkannya.
  • Belum matang secara emosional, hubungan sehat hanya dapat dijalani jika kedua pasangan bersikap secara dewasa dalam setiap permasalahan yang dihadapinya. Jika pasangan sulit mengendalikan emosi, maka itulah yang membuat hubungan toksik itu terjadi.

Ciri-Ciri Hubungan Toxic

Perlu kamu tahu, hubungan toksik bukan hanya digambarkan untuk pasangan yang suka kasar atau marah satu sama lain. Namun, juga bisa ditandai dengan komunikasi dan sikap memperlakukan pasangan dengan cara yang tidak wajar atau baik.

Pada dasarnya, suatu hubungan dapat dianggap toksik ketika salah satu atau keduanya merasa tidak aman dan nyaman lagi dalam hubungan. Ia juga cenderung merasa tertekan hingga mengganggu kehidupannya sehari-hari. Kenali ciri-ciri hubungan toxic disini.

1. Cara komunikasi yang tidak baik

Cara komunikasi yang tidak baik dapat ditandai dengan salah satu atau kedua pasangan yang cenderung menjalin komunikasi dengan cara yang tidak sepantasnya. Misalnya, teriakan, berkata kasar, sindiran, atau bahkan menggunakan kekerasan.

Mungkin banyak yang bertanya, apakah diam dan tak berkata sama sekali juga merupakan komunikasi yang tidak baik? Benar sekali, jika pasangan diam membisu dan tidak menyampaikan kata-kata apapun juga dianggap toksik. Artinya, pasangan tidak sanggup menjalin komunikasi yang sehat.

Sikap diam yang ditunjukkan bahkan bisa berubah menjadi emosi yang meledak-ledak suatu hari nanti. Atau, justru memicu miskomunikasi dan kesalahpahaman berkepanjangan.

2. Terlalu posesif

Posesif adalah sikap terlalu ingin memiliki pasangan hingga membuat ia ingin mengontrol diri kita sepenuhnya, termasuk aktivitas sehari-hari, keuangan, dan masalah dalam keluarga. Jika hanya mengontrol dalam batas yang wajar maka diperbolehkan, tetapi bila sudah melebihi batas dan mengganggunya artinya bisa dianggap sebagai hubungan toksik.

Rasa posesif yang ditunjukkan lama-lama tentu membuat pasangan akhirnya terpaksa untuk berbohong karena tidak ingin pasangannya ikut campur lagi. Kebohongan kecil yang sudah tercipta dalam hubungan saja sudah dianggap tidak sehat, apalagi bila ini sudah menjadi kebiasaan karena dilakukan terus-menerus agar pasangan tidak marah.

3. Tidak adanya rasa percaya

Tidak ada rasa percaya yang diberikan dalam hubungan juga membuat hubungan akan toksik seiring berjalannya waktu. Jika kamu merasa gagal membangun rasa percaya dalam hubungan, maka seterusnya akan dipenuhi dengan rasa curiga, posesif, atau tunduhan tak beralasan.

Kamu bisa mengenali tanda-tanda ini dengan melihat sikapnya sehari-hari. Entah itu selalu ikut selalu menuduh selingkuh, meminta kabar setiap jam, atau bahkan marah dengan emosi yang meledak-ledak ketika tidak dikabari.

4. Sering manipulatif

Memiliki pasangan yang selalu bersikap manipulatif tidaklah baik. Ini akan membuat kamu merasa bersalah terus-menerus bahkan untuk hal-hal yang memang belum pernah kamu lakukan.

Akhirnya, karena ingin tetap dalam hubungan, kamu berusaha untuk meminta maaf dan memohon agar tidak meninggalkanmu. Tidak hanya itu, pasangan yang manipulatif juga cenderung suka berbohong. Lagi-dan lagi, kamulah yang akan disalahkan dalam setiap permasalah yang dihadapi dalam hubungan.

5. Tidak adanya support dari pasangan

Mungkin beberapa pasangan akan menganggap ini sebagai hal yang biasa. Bisa jadi karena pasangan sibuk, banyak pekerjaan, atau bahkan alasan lainnya. Akan tetapi, bila pasangan memang sama sekali tidak pernah memberikan kamu dukungan dalam bentuk apapun, patut dipertanyakan.

Dalam hubungan yang sehat, sudah sewajarnya pasangan berperan sebagai support system bagi kekasihnya. Alih-alih merendahkan mimpinya, justru seharusnya pasangan menghargai dan mendukung apa saja yang kamu lakukan, termasuk memberikan apresiasi atas pencapaian yang didapatkan.

Cara Mengatasi Hubungan Toxic

Berada dalam hubungan yang toksik sangatlah melelahkan, karena itulah kamu butuh beberapa cara ini untuk mengatasinya. Diantaranya:

1. Mengakui hubungan sudah tidak sehat

Pertama, kamu harus menyadari terlebih dahulu bahwa sudah terlanjur atau terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Jika kamu sudah merasa tidak aman dan tidak nyaman, jangan pernah mengabaikan perasaan tersebut.

2. Mulailah bangun komunikasi yang baik dan jujur

Setelah itu, kamu bisa mengkomunikasikan perasaan tersebut ke dalam pasangan bahwa kamu merasa tidak nyaman dengan sikap yang ditunjukkannya. Namun, bicarakanlah dengan jujur dan tanpa sikap emosi apalagi sampai menyudutkan dan menyalahkan pasangan. Fokus pada solusi, bukan masalahnya.

3. Tetap prioritaskan diri sendiri

Meski dalam hubungan keduanya sama-sama penting, tetapi kamu harus mencoba untuk tetap memprioritaskan perasaan diri sendiri. Mental dan fisik lebih penting agar kamu tetap bisa menjalani kehidupan sehari-hari dibandingkan harus mengorbankannya untuk orang yang sudah jelas tidak bisa menghargai kamu.

Ingatlah, bertahan dalam hubungan yang sehat pada mulanya memang biasa saja. Namun, setelah berlangsung lama, kamu sendiri yang akan menanggung semua akibatnya. Tubuh jadi lelah, fisik terluka begitupun batin, dan semua pekerjaan jadi berantakan.

4. Berani untuk melepaskan

Sesayang dan secinta apapun dengan pasangan, jika ia tidak mau memperbaiki dirinya atau berubah menjadi lebih baik, maka tinggalkan. Belajarlah untuk melepaskan demi membahagiakan diri sendiri.

Bila dia tetap tidak ingin pisah dan ingin mengancammu, mintalah pertolongan pada orang terdekat seperti keluarga dan sahabat. Segera cari dukungan dari mereka agar kamu bisa keluar dari hubungan ini.

Setelah berhasil keluar dari hubungan toksik, penting bagi kamu untuk memberikan apresiasi pada diri sendiri. Atau, mungkin memberikan apresiasi pada siapapun yang berhasil menarik dirinya dari hubungan tersebut. Salah satunya, menghadiahkan bunga dari Athaya Florist.

Leave A Comment

Produk Pilihan
  • nahla-bunga-meja-dari-athaya-dengan-rangkaian-5-tangkai-anggrek-super
    Nahla

    Rp 3.700.000

  • maggie-bunga-meja-dari-athaya-dengan-rangkaian-bunga-mawar-lily-baby-rose-anggrek-bulan-dan-baby-breath
    Maggie

    Rp 2.700.000

  • aiko-adalah-buket-bunga-dari-athaya-yang-dirangkai-dari-bunga-mawar-carnation-dan-baby-breath
    Aiko

    Rp 1.000.000

Produk Favorit
Hand Bouquet
Standing Flower
Bunga Meja